Minggu, 26 April 2020

Kenapa Harus Partenokarpi


Mengapa harus ada partenokarpi? Dan apa itu partenokarpi?
 
            Istilah partenokarpi ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Noll pada tahun 1902 untuk menunjukan peristiwa pembentukan buah tanpa penyerbukan atau melalui rangsangan. Partenokarpi ini merupakan suatu peristiwa pembentukan buah tanpa melalui pembuahan sel telur. Leopold (1964) menggolongkan tiga tipe terjadinyan partenokarpi secara alami, yaitu perkembangan buah tanpa terjadinya penyerbukan, seperti pada buah tomat, lombk, waluh. Dan ketimun. Zat pengatur tumbuuh (ZPT) berperan besar dalam pembentukan dan pertumbuhan buah. Substansi ini terjadi secara endogen dalam tubuh tanamannya sendiri. Golongan ZPT seperti auksin berperan dalam merangsang pembelahan sel, peningkatan plastisitas dan elastisitas dinding sel. Giberelin berperan dalam merangsang pertumbuhan jaringan muda, pembungaan, dan peningkatan pembelahan sel (Weaver 1972). Cara mendapatkan buah tanpa biji dapat dihasilkan dari tanaman triploid melalui penyilasngan tanaman tertraploid dengan diploid, kultur endosperma/radiasi tepungsari secara in vitro dan rekayasa genetika atau tanaman diploid dengan perlakuan ZPT, stress tepung sari, zat kimia/antibiotuk dan lingkungan/tanaman.
            Penyilangan tanaman tertapoid (2n=4x) dengan diploid (2n=2x) akan menghasilkan tanaman triploid (2n=3x) yang jumlah kromosomnya kelipatan tiga dari kromosom dasarnya (3n). tanaman triploid ini memberikan keuntungan diantaranya pertumbuhannya menjadi lebih cepat, buahnya lebih besar, tidak berbiji dan lebih produktif seperti pada papaya. Pada perlakuan dengan lingkungan biasanya diberi perlakuan suhu rendah 26ºC pada malam hari dan intensitas cahaya yang tinggi pada siang hari dengan suhu 32ºC akan menghasilkan buah tanpa biji 53% pada tanaman tomat (Sato et al 2001). Perlakuan tanamana dengan mengupas kulit sebesar 1 cm sampai batas kayunya sekeliling batang menyebabkan hasil asimilasi/ZPT giberelin bertahan diatas luka irisan hingga meningkatkan ukuran buah dan menghasilkan buah tanpa biji seperti pada anggur. Untuk salah satu contoh penelitian menghasilkan buah partenokarpi dari tanaman terong dengan pemeberian ZPT bisa disimak penjelasan dibawah ini…….
Paterokarpi Tanaman Terung (buah terung)
Terong (Solanum melongena L.) merupakan tanaman sayuran yang termasuk family solanceae. Tanaman ini sangat disukai terutama oleh masyarakat Indonesia. Kandungan yang terdapat dalam terong ini terdapat 26 kalori, 1 g protein, 0,2 g hidrat arang, 25 IU vitamin A, 0,04 g vitamin B dan 5 g vitamin C. Bahkan kandungan yang terdapat dalam terong mengandung khasiat karena mengandung alkaloid, solanim, dan solasodin. Kemudian bagaimana hasil produksi dari tanaman terong? Hasil produksi terong pada tahun 2011 hasil panen terong bisa mencapai 14 kw/ha dan pada tahun 2013 hasil panen mencapai 36 kw/ha. Selain tuntutan terhadap peningkatan produksi, ternyata ada berbanyak permintaan dari para konsumen seperti warna, rasa, aroma, dan bahkan konsumen biasanya menyukai buah yang tanpa biji (partenkarpi). Keuntungan dari pertenokarpi meliputi : 1) produksi buahlebih stabil, 2) produktivitas lebih meningkat, 3) kualitas buah lebih baik. Akan tetapi menurut Pardal (2001) menjelaskan bahwa buah partenokarpi kurang menguntungkan seperti dalam aspek produksi biji/benih, tetapi sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan produktivitas buah.
            Bagaimana cara menghambat pembentukan biji? Salah satu cara untuk menghambat dalam pembentukan biji adalah dengan cara mengaplikasikan pembentukan zat pengatur tumbuh, seperti giberelin pada bunga tanaman (Purnamaningsih et al 2010). Perlakuan konsentrasi Giberelin yang digunakan yaitu : G0 = tanpa aplikasi giberelin (control), G1 = 0,1% giberelin per kuncup, G2 = 0,2% giberelin per kuncup, G3 = 0,3% giberelin per kuncup. Aplikasi yang dilakukan dengan cara menginjeksi larutan giberelin sebanyak dua tetes (dari spoit injeksi kapasitas 10mL) pada setiap kuncup bunga terung. Injeksi ini dilakukan pada bagian mahkota bunga , tepat dibagian atas kepala putik dengan maksud agar larutan giberelin dapat masuk (penetrasi) ke dalam tangkai putik (ovule tube). Setelah diinjeksi larutan giberelin dibiarkan selama 5 menit, dan selanjutnya pada benang sari ditanggalkan (dikeluarkan) dengan menggunakan pinset. Kuncup bunga yang telah diinjeksi kemudian dibiarkan tumbuh dan berkemabang hingga membentuk buah yang siap panen. Kemudian amati bobot buah, panjang buahm diameter buah, dan jumlah biji.

            Bagaimana hasilnya? Hasil yang diamati pada bobot buah menunjukan bahwa konsentrasi giberelin berpengaruh sangat nyata terhadapa bobot buah terung dari berbagai  konsentrasi yang dicobakan. Buah terung paling berat diperoleh pada perlakuan tanpa giberelin (0,0%) yang mencapai rata-rata 162,32 g per buah, sedangkan buah yang terbentuk dengan konsentrasi giberelin hanya berkisar 32,76 – 53,60 g per buah. Aplikasi giberelin sesuai dengan konsentrasi yang dicobakan tidak mampu mendorong pembelahan dan pembesaran sel seperti pada buah terung yang tidak diaplikasikan giberelin. Hasil pada panjag buah menunjukan pengaplikasian giberelin berpengaruh sangat nyata terhadap panjang buah. Panjang buah terung paling panjang terdapat pada perlakuan tanpa giberelin (0,0%) sedangkan pada perlakuan 0,1% ukuran buah terung menyusut dua kali lipat, untuk perlakuan 0,2% dan 0,3% buah terung menyusut tiga kali lipat. Hasil pada diameter batang menunjukan perlakuan konsentrasi giberelin berpengaruh sangat nyata terhadap diameter buah. Diameter buah paling besar terdapat pada tanpa pemberian giberelin (0,0%) dengan rata-rata 5,12 cm per buah. Perlakuan 0,2% memiliki hasil diameter batang 3,30 – 3,86 cm). Kemudian untuk jumlah biji menunjukan pengaruh sangat nyata dengan pemberian giberelin. Rataan jumlah biji terbanyak terdapat pada 0,0% (tanpa pemberian giberelin).
            Bunga pada tanaman umumnya gagal membentuk buah bila bunga tersebut tidak mengalami pembuahan (peleburan sel ovule dan sperma). Bunga terung yang diinjeksi denga giberelin konsentrasi 0,1%, 0,2%, dan 0,3% menghasilkan buah tanpa biji. Gagalnya pembentukan biji karena tidak terjadinya pembuahan pada bunga-bunga (yang diaplikasikan giberelin). Giberelin yang diaplikasikan pada bunga-bunga yang belum dibuahi mampu mendorong pembelahan sel ovary (bakal buah) menghasilkan buah-buah tanpa biji. Meskipun aplikasi giberelin pada bunga-bunga yang belum diserbukki mampu menghasilkan buahm namun buah-buah yang dihasilkan memiliki bobot yang ringan serta ukuran buah (panjang dan diameter relative kecil, hal ini diduga karena tidak terbentuknya biji pada buah yang dihasilkan. Pandolfini (2007) menjelaskan bahwa buah terung tanpa biji memiliki daya simpan yang lebih lama karena dengan tanpa keberadaan biji dalam daging buah menyebabkan sintesis metabolit sekunder seperti (fenolik) akan berkurang (terhambat) sehingga proses kerusakan pada buah daging menjadi lebih lama.
Pemanfaatan fenomena pembentukan buah patenokarpi dalam perspektif pertanian di Indonesia
1.      Partenokarpi Alami
Disebabkan factor genetic terjadi pada beberapa tanaman yang mempunyai kemampaun terbatas. Contohnya adalah tanaman pisang dengan kondisi triploid, tomat, manggis. Pertonkarpi alami terdiri dari dua tipe, yaitu tipe obligator dan fakultatif. Obligator merupakan salah satu  tipe partenokarpi yang terjadi tanpa adanya pengaruh yang berasal dari luar. Tipe ini juga dapat terjadi karena ditandai dengan adanya gen yang berperan sebagai penginduksi maupun penyebab terjadinya partenokarpi. Partenokarpi juga diatur oleh lingkungan, temperature 5ºC menyebabkan terjadinya perkembangan buah partenokarpi pada buah paprika. Falcon et al (2008) menyatakan bahwa petani di Brinjal sudah menggunakan buah mulai menggunakan partenokarpi pada tahun 1980 akhir. Hal tersebut merupakan bagian dari partenokarpi yang bersifat fakultatif karena hanya dapat dilakukan dalam kondisi dingin sehingga mendukung proses penyerbukan buah dalam kondisi normal. Menurut Fuzhong et. al. (2005), temperatur yang dapat menginduksi partenokarpi berkisar antara. Manik et. al. (2000), telah menyelidiki karakter buah partenokarpi yang terjadi pada kakrol berbeda secara genotipe menghasilkan buah partenokarpi yang secara alami dapat menghasilkan jumlah terbanyak pada  bunga per tanaman, pertumbuhan vegertatif yang kurang, pembuahan yang berkelanjutan, dan periode panen yang lebih lama.
2.      Partenokarpi Buatan
Salah satu partenokarpi buatan ini adalah dengan zat pengatur tumbuhuan (ZPT). Zat pengatur tumbuh secara alami atau endogen terdapat dalam tubuh tanaman beserta komponen pendukung lainnya. Proses pembelahan sel, peningkatan plastisitas, maupun elastisitas pada dinding sel, regulasi pembungaan hingga pembuahan, merupakan peranan dari ZPT jenis auksin. Sedangkan giberelin (GA) merupakan ZPT yang berperan dalam menginduksi pertumbuhan jaringan secara meristematik (Weaver, 1972). Menurut Tukey (1954), auksin yang aktif terkandung dalam ovarium untuk membentuk bakal buah berada pada jumlah paling rendah yang dianggap sebagai ambang batas. Hal tersebut terbukti pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Bower et. al. (1978), yaitu terjadinya aktivitas enzim yang berasal dari tabung sari sampai teroksidasinya indole-3-acetal- dehyde menjadi 3 indole-acetic-acid (IAA) merupakan bukti dari bagian ambang batas jumlah auksin pada putik yang akan diubah menjadi auksin yang lebih aktif melalui beberapa subtansi.
Pemanfaatan polen secara iradiasi, partenokarpi yang semakin lama menjadi bahan perhatian tentunya memiliki keuntungan yang umumnya pada pemanfaatan polen secara iridiasi menggunakan sinar X yang dipancarkan pada botol sehingga buah yang dihasilkan tanpa biji buah yang bersifat partenokarpi pada tahapan ini adalah kultivar semangka dengan kondisi diploid. Menurut Sugiyama et. al. (2014), menyimpulkan bahwa partenokarpi yang dihasilkan dari polinasi menggunakan botol labu menghasilkan partenokarpi yang bersifat stimulatif, bukan partenokarpi yang bersifat pseudogami. Adanya ketertarikan pada studi lain yang mengulas mengenai mekanisme produksi buah tanpa biji setelah polinasi dengan menggunakan sinar x sebesar 600 Gy pada buah semangka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan dengan menggunakan radiasi sinar x dengan teliti tidak menyebabkan kerusakan pada dinding sel ketika terjadinya polinasi pada semangka, sehingga proses polinasi dan pemupukan dapat berjalan secara normal. Namun dengan demikian, kromosom heliks ganda pada semangka yang telah dipolinasi mudah mengalami kerusakan, sehingga menghambat proses perkembangan embrionik yang mengarah pada kematian pada embrio dan degenerasi endosperma yang mengarah pada pembentukan buah partenokarpi pada semangka (Qu et. al., 2016).

Jurnal :
Rezaldi, F. et al. 2019. Pemanfaatan Fenomena Pembentukan Buah Partenokarpi dalam Perspektif Pertanian di Indonesia. Jurnal Kultivasi, Vol 18 (2)
Sukamto, L. 2011. Partenokarpi : Buah Tanpa Biji – Apa, Mengapa, dan Bagaimana. Pusat Penelitian LIPI-Cibinong
Zain, A. R. et al. 2015. Pembentukan Buah Terung (Solanum menlongena L.) Partenokarpi Melalui Aplikasi Berbagai Konsentrasi Giberelin. Jurnal Sain dan Teknologi Taduloka, Volume 4 Nomor 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Harus Partenokarpi

Mengapa harus ada partenokarpi? Dan apa itu partenokarpi?               Istilah partenokarpi ini sebenarnya pertama kali diperke...